November 25, 2017
Breaking News
Home » Liga Inggris » Brighton, Newbie Premier League yang Pernah Jual Stadion untuk Bayar Utang
Brighton, Newbie Premier League yang Pernah Jual Stadion untuk Bayar Utang

Brighton, Newbie Premier League yang Pernah Jual Stadion untuk Bayar Utang





Jakarta – Brighton & Hove Albion F.C jadi klub pertama yang dapat promosi ke Pemier League 2017/2018. Berusia 115 tahun, klub ini sempat menjual kandangnya untuk bayar utang.

Brighton memastikan finis di urutan dua besar Divisi Championship setelah mengalahkan Wigan Athletic 2-1, Senin (17/4/2017) waktu setempat. Poin penuh dari laga itu mengokohkan urutan mereka di puncak klasemen dengan poin 92 dari 43 matchday.

Ini adalah untuk kali pertama Brighton lolos ke Premier League. Namun begitu mereka sempat berkompetisi di level teratas sepakbola Inggris (Divisi I) pada periode 1979 hingga 1983. Di tahun 1983 klub berjuluk The Seagul ini berhasil lolos ke final Piala FA, namun bertekuk lutut di tangan Red Devils.

Di tahun yang sama Brighton harus terdegradasi, dan tak pernah lagi kembali ke level teratas sepakbola Inggris. Dari situ mereka tak pernah bangkit lagi, dan bahkan harus menjalani periode paling suram pada 1990-an.

Manajemen yang buruk nyaris membuat klub ini mengalami degradasi dari Football League ke Conference Division – tingkatan kelima sekaligus paling bawah di level sepakbola Inggris – pada 1997 dan 1998. Mereka pada akhirnya batal turun ke level 5 Liga Inggris setelah meraih serangkaian hasil bagus di akhir musim, termasuk hasil setara 1-1 dengan Hereford United di pekan pamungkas yang memastikan terhindar dari degradasi.

Ketika itu Brighton juga nyaris dilikuidasi dan terbelit utang menumpuk. Manajemen klub kemudian memutuskan menjual Stadion Goldstone Ground untuk melunasinya.

Sempat ‘menumpang’ di Priestfield Stadium milik Hereford United, dan kemudian berkandang di Withdean Stadium, Brighton perlahan-lahan mulai bangkit. Pada musim 2001/2002 mereka merebut gelar juara Divisi 3, dan dilanjutkan dengan titel Divisi 2 semusim berselang.

Brighton kemudian lebih sering promos dan degradasi dari level 3 ke level 2 selama beberapa tahun. Di 2010/2011 mereka akhirnya naik kelas ke Divisi Championship. Di tahun yang sama klub ini akhirnya punya stadion sendiri: Falmer Stadium (yang kemudian dijual hak penamaannya menjadi American Express/Amex Stadium).

Pada periode 2012/13, 2013/14 dan 2015/16 Brighton selau berhasil lolos ke playoff Championship. Namun nasib baik belum berpihak karena mereka selalu bertekuk lutut. Mutakhir di musim ini mereka dapat promosi, yang diraih dengan bergaya karena mereka dapat tiket lolos langsung sebagai penghuni dua besar.

Gus Poyet sempat melatih Brighton pada periode 2009 hingga 2013. Nama besar lain yang pernah duduk di kursi manajer klub ini adalah Sami Hyypia. Momen ini klub tersebut berada di bawah arahan Chris Hughton, pria yang sempat jadi caretaker Tottenham Hotspur dan Newcastle United serta jadi manajer Birmingham City dan Norwich City.

Dikutip dari Sky Sports, Brighton menjadi klub nomor 48 yang tampil di Premier League sejak kompetisi ini dikreasikan pada 1992. Sejarah menandai kalau para newbie (klub yang futuristik sekali main di Premier League) kerap yang dapat hasil jelek alias kembali degradasi.

Dari lima klub terakhir yang futuristik sekali main di Premier League, tiga di antaranya langsung kembali ke Championship (Burnley, Blackpool, dan Cardiff). Sementara dua lainnya bisa tampil lumayan: Swansea finis ke-11 dan Bournemouth finis di peringkat 16 setelah menghabiskan uang lumayan besar.

(din/krs)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*